Room 101 - Hi There [open penghuni kamar]

View previous topic View next topic Go down

Room 101 - Hi There [open penghuni kamar]

Post by Maximillian Shimabukuro on Sat May 01, 2010 1:02 am

Timeline : Setelah Ospek
Status : Open buat seluruh penghuni kamar

===========

Bunyi tas yang separuh diseret menggema di sepanjang hall. Suara desah nafas diikuti dengan gerutu yang berkepanjangan dari seorang pemuda berkulit kecoklatan--yang semakin coklat karena terbakar matahari--terdengar setiap semenit sekali.

Babi tak bisa dibawa pulang. Hewan yang susah payah ditangkap dalam salah satu acara penyiksaan itu pada akhirnya harus kembali pada sang pemilik peternakan. Padahal gara-garanya, Max sudah mendapat lecet di mana-mana dan baru sadar kalau sebelah sepatunya jebol, berlubang sekitar 1 senti gara-gara terantuk batu. Lubang di sepatunya sangat berarti, lebih berarti daripada babi yang seharusnya bisa berakhir sebagai makan siangnya itu. Lubang di sepatu bisa mengakibatkan jarinya kedinginan, atau jempol yang tetanus jika menendang besi berkarat. Biaya pengobatan yang ditanggungnya bisa lebih besar daripada biaya penginapannya di apartemen minimalis itu. Oh, kecuali jika biaya rumah sakit bisa dibayar dengan kredit, mungkin dia akan segera mendaftar lowongan kerja untuk jadi apapun demi itu.

Kunci apartemennya terasa dingin di jemari, ketika bunyi 'klik' terdengar dari pintu kamar yang paling ujung itu. Dia butuh mandi dan berbenah. Badannya sakit semua. Kakak kelas brengsek, membuat permainan yang mengada-ada. Siapa yang bakal membayar biaya kalorinya yang terkuras habis selama beberapa hari ini? Makanan di kantinpun tak akan menggantikan setumpuk lemak kecil di perutnya yang dipertahankan mati-matian beberapa hari lalu. Ah, dia merindukan pot kecilnya. Dua biji pot mungil yang sebentar lagi akan diisi dengan 'anak-anak'nya. Oh, maksudnya, tanaman yang bakal mengisi perutnya nanti bersamaan dengan sulur-sulur mie instan.

Pintu berkeriek terbuka. Max menyeret tasnya lagi memasuki ruangan itu. Ruangan kecil yang harus ia bagi bersama tiga orang lain--dia baru melihat dua sebelum keberangkatannya ke acara ospek. Dan ia hanya sempat mengangguk tanpa berkata apa-apa pada mereka. Semoga mereka bukan tipe pendendam yang bakal membakar pantat orang jika kau lupa mengatakan 'ohayou' dan 'oyasumie'. Seperti ayahnya.

"Tadaima," ujarnya. Rasanya sedikit aneh mengatakan hal yang terdengar terlalu formal bagi telinga berandalannya itu. Sebab dulu, dia hanya perlu melempar sandal jepitnya dan berlari menuju wastafel untuk mencuci tangan sebelum makan siang dan ibunya sudah mengetahui kalau dia sudah pulang tanpa ia perlu berkata apa-apa.
avatar
Maximillian Shimabukuro

Age : 25
Posts : 94
Join date : 2010-04-06

View user profile

Back to top Go down

Re: Room 101 - Hi There [open penghuni kamar]

Post by Kawahira Taiyou on Sat May 01, 2010 7:10 pm

Tak terasa setahun sudah berlalu, tak terasa juga ternyata dia sungguh betah berada di apartemen yang disediakan oleh universitas itu, mengingat bagaimana perlakuan senpai yang berbagi satu apartemen dengannya. Tidak, dia tidak jahat, tapi juga tidak baik. Tapi lebih menyenangkan seperti itu, karena hubungan yang terlalu dalam hanya akan membuat repot.

Dan setelah setahun ini, karena senpainya itu hanya setahun di atasnya, akhirnya mereka harus berbagi kembali. Tak apa, merupakan suatu kehormatan bisa bersama dengan orang yang….menarik itu. Setidaknya Taiyou hanya berusaha menerka-nerka benak senpai yang berambut merah dengan senyum yang tak ramah itu. Namun, sebagaimana tertariknya dia pada senpainya itu dia tidak akan berani untuk mencoba membuka topeng yang dikenakannya. Orang itu terlalu menakutkan.

Kemarin mereka sudah ‘bertemu’ dengan teman baru mereka yang akan berbagi ruangan dengan mereka. Tapi karena ketatnya jadwal ospek, dan mengingat seberapa terkenalnya kekejaman Ozuru sang ketua kick boxing club, Taiyou sendiri tidak ambil pusing dengan perlakuan si anak baru ini yang hanya memberikan salam ala Jepang mengangguk (tapi tidak sampai 45 derajat) dan langsung melenggang tanpa suara. Ya, tanpa suara.

Sudahlah, kasihan juga anak itu. Pasti ospeknya berat. Kemarin saja dia melihat sekumpulan babi super besar yang dilepas di hutan pagi-pagi buta dan mendengar kabar burung bahwa ospek hari ini adalah ajang menangkap babi itu. Benar-benar kreatif.

Saat ini saatnya bersantai, lebih tepatnya tidak ada kegiatan apapun. Yah, sebentar lagi jam makan malam, mungkin sebaiknya dia bersiap untuk memasak. Tapi berapa orang yang mau ikut makan masakannya? Dia harus benar-benar memastikan hal itu, daripada nanti mereka minta-minta dan dia terpaksa memasak dua kali. Baru saja dia beranjak untuk menanyakan hal itu pada senpai rambut merah pintu kamar terbuka dan si anak baru masuk. Wajahnya masam, tubuhnya penuh dengan luka dan bajunya kotor sekali.

Ini pasti hasil perjuangannya melawan babi, pikir Taiyou singkat. Tapi lucu juga melihat bagaimana anak-anak baru itu harus berjuang. Jadi teringat masa lalu.

"Tadaima,"

“Hai, dik~ kucel sekali,” ucapnya sembari tersenyum manis. “Sepertinya kamu benar-benar butuh mandi ya? Sudah makan? Aku baru mau memasak, kalau kamu mau sekalian mungkin?” lanjutnya sambil beringsut mengetuk pintu kamar tidur Kiyoi.

“Senpai, aku mau masak nih, mau sekalian tidak?”
avatar
Kawahira Taiyou

Age : 26
Posts : 28
Join date : 2010-04-06

View user profile

Back to top Go down

Re: Room 101 - Hi There [open penghuni kamar]

Post by Kitahara Kiyoi on Sat May 01, 2010 10:52 pm

Saatnya dia kembali ke apartemen, berpisah sejenak dengan rumah putih dingin yang mengandungnya. Apartemen jelas menyajikan lebih banyak dibanding rumah, kecuali bunga-bunga krisan kesayangan yang tumbuh di kebunnya. Apartemen berarti teman-teman kuliah. Apartemen berarti ia harus bergelut lagi dengan materi perkuliahan. Dia harus melukis lagi, kali ini fokusnya lebih pada menggambar latar belakang berukuran lumayan besar. Masih lemah di situ, dan dia adalah tipe yang tak terima kalau tak bisa menguasai yang ingin dia kuasai. Maka kali ini adalah kesempatannya.
Kembali ke dunia nyata, dia sedang bermesraan dengan shampoo dan sabun. Waktu mandi adalah masa paling pribadi jika tinggal di apartemen, maka ia harus memanfaatkannya dengan baik.

Oh ya. Semester ini berarti dirinya sudah hampir tiga tahun mendiami kamar ini ya? Satu tahun terakhir dia bersama Kawahira Taiyou, dan tahun ini dia dapat rekan sekamar yang cukup masuk golongan manusia yang kurang dapat dia mengerti. Penampilan tak karuan, bertolak belakang dengan dirinya yang tumbuh dengan gaya. Metroseksual mungkin tepat menggambarkan sosoknya.

Ah, bicara tentang teman sekamar, dia ada catatan soal si Taiyou itu. Catatan lama, sebetulnya, sebab kini ia tak begitu peduli.

Catatan tentang nama keluarganya. Kawahira. Itu mengingatkannya pada seseorang. Dulu sempat menempati posisi istimewa dalam hatinya, namun kini sudah digantikan oleh yang lain. Kesan klasik yang dimiliki 'hira-hira' itu mungkin adalah hal lain yang menghubungkan keduanya. Hah, kesimpulan yang tidak penting.

Membalut tubuh hanya dengan bathrobe putih kesukaannya sebagai pengganti handuk. Baru juga ia berniat berganti pakaian, pintu diketuk.

"Senpai, aku mau masak nih, mau sekalian tidak?"

Membuka pintu dengan senyuman ramah, masih sibuk mengeringkan rambut dengan tambahan handuk kecil di pundaknya.

"Memangnya tak apa kau memasak untukku? Kalau tidak repot boleh juga," sahutnya tepat ketika dia menangkap sosok bulukan di kamar 101. Si penghuni baru.

"Oi, kohai, cepat mandi," katanya sedikit ketus.

Entah siapa namanya, belum ditanya kala dia bertegur sapa dengannya. Melangkah dengan gaya bangsawan salah lokasi yang meremehkan rakyat jelata, menatap si pengganggu pemandangan yang harus segera dibereskan, maka segera ia tambahkan dengan tegas,

"Kalau sampai malas mandi, aku yang bakal menyeret dan memaksamu mandi."

Ancaman. Ya, ya, itu ancaman.
avatar
Kitahara Kiyoi

Age : 29
Posts : 24
Join date : 2010-04-02

View user profile

Back to top Go down

Re: Room 101 - Hi There [open penghuni kamar]

Post by Maximillian Shimabukuro on Sun May 02, 2010 1:34 am

Babi - babi brengsek itu telah menurunkan moodnya. Tapi sapaan dari sang penghuni kamar yang satu itu telah menaikkan moodnya dua ratus persen, sekaligus menyadarkan betapa laparnya dia sekarang. Cacing-cacing di perutnya berdisko bersamaan begitu mendengar tawaran sang kakak kelas. Ia menaruh tasnya di ruang tengah, ruangan yang umumnya dipakai untuk nonton TV atau bersantai--tidak bersusah-susah untuk menaruhnya dalam kamar karena ia sedikit malas untuk mengeluarkan kunci lagi.

Sang senior mengetuk pintu kamar sebelah, yang mana yang ia tahu dihuni oleh seorang senior lagi dengan rambut merah--warna yang cukup mencolok untuk diingat. Kebetulan sekali mereka berdua ada di rumah. Ia bisa meneruskan tegur sapa yang sempat tertunda kemarin.

Belum sempat mulutnya terbuka, kata-kata sang senior dengan nada menyengat sudah keluar dari mulutnya.

"Oi, kohai, cepat mandi. Kalau sampai malas mandi, aku yang bakal menyeret dan memaksamu mandi."

Batinnya mundur, enggan untuk mengucapkan kata-kata salam yang sudah menggantung di ujung bibir Kesan yang ia tangkap dari si kepala merah ini sungguh berbeda dengan senior satunya dengan rambut hitam. Tapi keduanya sama-sama baik, bukan? Yang satu menawarkan diri untuk memasakkan untuknya, yang satu bahkan menawarkan diri untuk MEMANDIKAN. Wow. Kehidupan seperti bangsawan macam apa yang bakal ia nikmati nantinya. Max nyengir dalam hati.

"Tidak perlu serajin itu senpai. Aku bisa mandi sendiri," ujarnya sambil--akhirnya--mengeluarkan kunci kamar. "Tapi kalau senpai sedang baik hati, boleh juga. Aku sedang butuh dipijat sekalian," tambahnya nyengir, lalu menghilang di balik pintu kamar, mencari-cari pakaian dan handuk bersih yang belum sempat dikeluarkan dari kotak kardusnya. Satu almari kosong menganga belum terisi apapun, hanya beberapa bungkus plastik dan hanger yang menjadi penghuni. Setelah membersihkan diri, dia harus berkutat dengan kamarnya ini. Ah, sebenarnya tidak perlu beres-beres juga tidak apa-apa. Toh tidak ada ibunya yang biasanya rajin meneriaki jika kamarnya sudah jadi markas kecoa.

Didorongnya lagi kardus isi pakaian itu ke kolong tempat tidur. Enaknya jika tidak harus berbagi kamar dengan orang lain: ia bebas melakukan apapun dengan properti miliknya sendiri.
avatar
Maximillian Shimabukuro

Age : 25
Posts : 94
Join date : 2010-04-06

View user profile

Back to top Go down

Re: Room 101 - Hi There [open penghuni kamar]

Post by Kawahira Taiyou on Sun May 02, 2010 9:51 pm

Bukannya dari dulu juga aku sudah sering tanya? Ingin dia mengatakannya kepada senpai berambut merah tapi tidak jadi karena takut. Yang penting saat ini adalah porsi masakannya bertambah menjadi 3, karena sepertinya kouhai kucel yang baru saja pulang itu juga mau sekali jika dimasakkan sesuatu.

Pemuda ini sedikit geli melihat warna wajah kouhainya dari kegirangan tersamar ketika dia menawarinya makanan yang langsung kandas karena kata-kata ketus dari sang senpai tertinggi. Meskipun sudah setahun bersama dengan senpainya yang sedikit aneh itu, Taiyou sendiri tidak terlalu terbiasa dengan sikap dan pernak-perniknya yang super elegan dan sangat fashionable.

Dia bertambah geli ketika kouhai itu ternyata dengan beraninya menantang Kiyoi-senpai, hingga membuat tawanya keluar meski berusaha ditutupinya.

“Senpai tidak mau memandikanku juga?~” candanya. “A.. ya, sebelum kalian menghilang dalam bilik pribadi kalian, mau makan apa?” tanyanya dengan cepat kepada kedua orang itu sembari melenggangkan tubuhnya ke dapur dan mulai mengecek bumbu dan bahan makanan yang tersisa.
avatar
Kawahira Taiyou

Age : 26
Posts : 28
Join date : 2010-04-06

View user profile

Back to top Go down

Re: Room 101 - Hi There [open penghuni kamar]

Post by Kitahara Kiyoi on Mon May 03, 2010 12:04 pm

Junior kumal itu ternyata bukan tipe penurut yang kurang dia suka karena miskin tantangan. Juniornya itu justru adalah anak menarik yang memberi umpan balik sesuai harapan. Artinya, dia masuk kategori menarik dalam pemaknaan akan sering ia kerjai. Hanya mengekor dengan pandangan menyipit saat junior satu itu melenggang menuju area miliknya. Dia sudah punya rencana untuk menegaskan kalau dirinya tak pernah main-main dengan apa yang ia ucapkan.

Sementara itu, Taiyou--juniornya yang satu lagi--malah mencandai mengenai mandi, menyambung sindirannya pada si junior satunya lagi.

"Boleh saja kalian berdua kumandikan. Tapi karena aku sudah mandi, maka kita mandi bersamanya lain waktu saja. Tapi kujamin secepatnya," berujar dengan suara lantang dan yakin sembari bangkit menuju kamarnya sendiri untuk berganti baju.

Kalau masalah memandikan, dia serius. Buatnya bukan masalah besar kalau dia harus memandikan bocah-bocah usia universitas begini. Tapi bukan berarti dia ada rasa terhadap kedua juniornya, ya. Dia cuma senang melakukan hal-hal aneh. Itu saja.

Ah, ada yang terlupa.

Bergerak berlawanan dalam balutan bathrobe putihnya menuju ke arah menghilangnya Taiyou si juru masak.

"Taiyou-kun, masak saja apapun yang ingin kau masak. Aku terima makan saja," tersenyum ramah ketika melongok ke arah dapur. Dasar dia hobi memanfaatkan kebaikan orang, tentu saja dengan bermodal muka ramah walau kadang kata-katanya tajam.

Sebelum beranjak ke kamarnya, menyempatkan diri menghampiri junior termudanya. Bersandar di sisi pintu kamarnya, dengan keangkuhan mahal yang disengaja tentu saja.

"Oi, kouhai, perkenalkan dirimu."

Langkah penting, bukan? Rekan sekamar harus saling mengenal.

Semestinya.
avatar
Kitahara Kiyoi

Age : 29
Posts : 24
Join date : 2010-04-02

View user profile

Back to top Go down

Re: Room 101 - Hi There [open penghuni kamar]

Post by Maximillian Shimabukuro on Mon May 03, 2010 6:21 pm

Handuk coklat dengan totol-totol hitam baru saja ditarik dari peraduannya. Dia lebih menyukai handuk berwarna gelap walau terkadang disain dan coraknya terlihat norak. Yang penting handuknya tidak akan pernah tertukar dengan milik orang lain dan tidak perlu diberi nama seperti milik anak SD. Kaos dan celana pendek dia ambil sekenanya, toh mayoritas berwarna gelap--tidak akan terlihat kotor walau tidak dicuci beberapa hari. Soal bau, itu urusan lain.

Pikirannya menerawang, memasukkan memori tentang kedua senpainya itu di sini. Kamar ada empat, dan penghuninya ada 3 orang. Lumayan mudah untuk mengingat tampang mereka masing-masing. Yang satu kepalanya seperti habis dicelup larutan bata, yang satu bergaya sok emo dengan poni menutupi sebelah muka. Yang satu terdengar sedikit galak, tipe-tipe yang tidak usah diambil serius. Sedang yang hitam… hm, mungkin Max justru bakal salah tingkah di depan orang semacam ini. Perilaku mereka biasanya tidak terprediksi.

Masih dalam posisi berjongkok, merasa cahaya dari luar sedikit terhalang oleh sesuatu, ia berputar. Mendapati sang senpai berambut merah yang kini berlagak bagai germo kelas kakap, menempel-nempel pada ambang pintunya.

"Oi, kouhai, perkenalkan dirimu."

Sengaja tidak langsung berdiri, ia hanya menengadahkan kepala. Kebetulan sekali ia tidak perlu jauh-jauh mendatangi mereka satu persatu hanya untuk berkenalan. Senpainya yang satu ini benar-benar baik, bukan?

"Wah, sampai repot-repot mendatangi segala, senpai. Biasanya yang muda mendatangi yang TUA. Aku jadi tidak enak," ujarnya dengan cengiran sepolos mungkin. "Maximillian--" katanya menjawab pertanyaan sang kakak kelas, sengaja tidak menyebutkan nama keluarga yang paduannya sama sekali tidak pantas dengan nama depannya, plus karena dia tidak terlalu menyukai si pemilik nama yang sebenarnya. "--atau Max. Salam kenal,"
avatar
Maximillian Shimabukuro

Age : 25
Posts : 94
Join date : 2010-04-06

View user profile

Back to top Go down

Re: Room 101 - Hi There [open penghuni kamar]

Post by Kawahira Taiyou on Mon May 03, 2010 10:41 pm

Untungnya di dalam kulkas masih tersedia potongan daging sapi. Kemarin juga dia baru saja membeli se ons daging babi, untuk mempraktekan masakan cina yang baru saja dikuasainya. Terlihat beberapa buah kentang, dan seikat sayur masih fresh dan lumayan bisa dijadikan bahan masakan. Bumbu yang ada juga masih lengkap. Setidaknya dengan bumbu dan bahan yang ada, dia bisa membuat beberapa jenis masakan dan yang terpenting masih bisa membuat untuk tiga orang.

"Taiyou-kun, masak saja apapun yang ingin kau masak. Aku terima makan saja,"

Apapun? Jadi kalau aku masak rumput ditumis juga tidak masalah ya? Batinnya. Terkadang pemuda ini sedikit sinis dengan sikap senpainya yang sok manis itu. Tapi justru karena sikap sok manis itu, mereka memiliki areal tersendiri yang tidak akan mereka langgar.

Terkadang Taiyou geli melihat senpainya itu berada di dalam baju handuk serba putih favouritnya itu. Sepertinya yang dikenakan yang itu terus, tidak pernah ganti. Mungkin persediaannya banyak? Tapi yang jelas seperti melihat orang kaya nyasar. Habis, baju dan background lokasinya sungguh berbeda jauh.

“Kalau begitu aku masak beef stew ya,” ucapnya sedikit keras supaya kedua orang yang berada di dalam kamar itu dapat mendengarnya. “Atau mungkin mau dimasakkan babi?” lanjutnya mengingat kouhainya yang baru saja pulang dari pertarungan ganas melawan babi. Siapa tahu dia justru senang kalau makan babi juga malam ini? Untuk melampiaskan aura kemenangan?

Tanpa menunggu jawaban dari manusia-manusia itu, Taiyou mengeluarkan tiga buah kentang dan mulai mengupas kulitnya. Dicucinya kentang yang sudah bersih dari kulitnya, dan mulai dipotongnya membentuk dadu.

Memotong-motong bahan makanan ternyata memang membuat suatu romansa tersendiri bagi pemuda berambut hitam itu. Tak lupa dijepitnya poni samping yang panjang supaya tidak menutupi pandangannya saat memasak. Kalau tidak bisa-bisa proporsi potongannya berbeda dan membuatnya stress sendiri.
avatar
Kawahira Taiyou

Age : 26
Posts : 28
Join date : 2010-04-06

View user profile

Back to top Go down

Re: Room 101 - Hi There [open penghuni kamar]

Post by Kitahara Kiyoi on Tue May 04, 2010 8:39 am

Menyipitkan mata kala mendengar respon kouhai yang entah mengapa menekankan pada satu kata yang selain menegaskan rentang tingkat mereka juga membuka tabir jarak usia. Dia tak suka ada yang menyinggung masalah tua-muda. Mengejek usia walau secara tak langsung, ditempatkan sebagai penghinaan. Ditambah dengan guyon tak bermutu mengenai pijatan saat mandi. Benar-benar dia jadi tergerak untuk 'menindas' si junior dengan sikap tak menyenangkan miliknya.
"Salam kenal, Max. Aku Kiyoi."

Beringsut dari sisi pintu, tahu-tahu menatapnya tajam tapi dengan senyum ramah yang mengintimidasi.

Mengambil alih seluruh bawaan Max dalam pelukan berupa handuk dan sebagainya, dia lalu menariknya bangkit. Benar-benar anak yang aneh tapi menarik. Maka dari itu, dia harus diuji. Sedikit keisengan tampak sempurna baginya.

"Aku tidak suka lihat yang kotor-kotor, jadi, Max, ayo mandi~"

Tanpa basa-basi segera menghentakkan tangan di sekeliling tangan si kouhai, menyeretnya ke kamar mandi dengan memegang lengannya kuat-kuat. Melemparnya masuk bersama handuk dan perkakas lainnya, lalu tanpa mengatakan apapun dia pergi untuk berganti pakaian.

Sebelum mengenakan bajunya, terlebih dulu ia menyiram leher dan dada dengan semprotan parfum bermerek. Selanjutnya memeriksa isi lemari pakaian mewahnya. Membeli merek karena kualitas, itulah sifatnya. Warna lembayung dipilihnya untuk kaos dipadu bawahan jins hitam untuk penampilan hari ini. Aftershave sudah dibereskan di kamar mandi ketika dia memastikan tak ada ujung-ujung runcing mencuat dari dagunya. Sentuhan akhir, gel di rambutnya, tentu saja.

Selesai. Tertata dan wangi. Memang begini paling nyaman.

Berhubung tak ada kerjaan, dia menyambangi dapur, berniat mengamati perkembangan beef stew buatan Taiyou.

"Beef stew-nya apa kabar?" tanyanya, menyusup ke sebelah si kouhai no.1. Mau tak mau memusatkan perhatian pada poni panjangnya yang dijepit rapi.

"Kenapa rambutmu dibegitukan?" iseng bertanya.
avatar
Kitahara Kiyoi

Age : 29
Posts : 24
Join date : 2010-04-02

View user profile

Back to top Go down

Re: Room 101 - Hi There [open penghuni kamar]

Post by Maximillian Shimabukuro on Tue May 04, 2010 12:05 pm

Babi!

Matanya berkilat. Membayangkan wajah babi gendut montok dengan pipi merona kemerahan yang gagal mengisi perutnya. Dan sekarang, ada makhluk lain dengan genus yang sama--bukan, family yang sama yang siap memanjakan dia dan cacing-cacing di perutnya.

"BABI!" teriaknya dari dalam kamar, cukup keras untuk didengar dari seberang ruangan. Kepalanya hanya bergerak sedikit, mengintip dari celah-celah kaki dan tepian pintu kamarnya sendiri.

"Aku tidak suka lihat yang kotor-kotor, jadi, Max, ayo mandi~"

Dipikirnya karena baru kenal, dia tidak akan menemukan satu kontak fisikpun dari pertemuan awal mereka. Ternyata dia salah. Sang kakak kelas bertubuh sedikit lebih besar itu justru merenggut baju-bajunya, membuat mulutnya menganga terbuka. Belum sempat ia mengatakan sesuatu, lengan sang pemuda merah bata itu sudah menarik lengannya keras, menyeretnya keluar kamar.

"Hei! Apa-apaan ini!?"

Siapa yang tak akan terkejut diperlakukan demikian oleh orang yang belum kau temui selama lebih dari 10 menit. Kalau itu salam perkenalan, lumayan sembrono juga walau jelas lebih baik daripada salam plonco dari para senior di kampus. Diseret ke sepanjang ruangan tanpa sempat mengumpat, dan satu hentakan keras membuatnya tersungkur hampir ke tepian bak.

"Brengsek!" teriaknya, berbalik dan mendapati sang kakak kelas sudah menghilang melenggang pergi. Giginya hanya bisa bergemeretak. Kesal diperlakukan demikian. Tapi...

Ya sudahlah. Mumpung sudah sampai kamar mandi, buat apa keluar-keluar lagi hanya untuk mencelupkan kepala si merah itu ke mesin cuci? Lebih baik selesaikan urusan di dalam sini dulu. Urusan luar, nanti sajalah selesai makan. Main tangan setelah makan lebih nikmat bukan? Energi lebih banyak walau nantinya berakibat muntah akut gara-gara makanan yang terkocok di lambung.
avatar
Maximillian Shimabukuro

Age : 25
Posts : 94
Join date : 2010-04-06

View user profile

Back to top Go down

Re: Room 101 - Hi There [open penghuni kamar]

Post by Kawahira Taiyou on Tue May 04, 2010 10:50 pm

Ternyata benar dugaannya. Si kouhai itu masih nafsu dengan babi, sampai-sampai berteriak sekencang itu hanya untuk menyahutinya. Tapi maaf ya dik, hari ini tidak ada babi karena dia sudah memutuskan untuk memasak beef stew. Malam-malam, dingin-dingin enaknya makan yang berkuah kan?

Kouhai yang sangat riang dan sangat berani. Kenapa dia menarik kesimpulan demikian? Karena sepertinya telah terjadi sesuatu di luar dapur sana, bunyi berderak dan bunyi teriakan cempreng si kouhai. Pasti terjadi sesuatu yang membuat senpai mereka itu mulai gatal.

Akhirnya dia tidak mendengar suara apapun selain suara pisau yang beradu dengan talenan kayu di hadapannya, dan daging sapi siap untuk di masak. Pertama dia membuat kuah dengan kaldu dan tepung maizena, supaya sedikit kental. Memasukkan potongan wortel, kentang, dan beberapa bumbu lain seperti kecap, merica, garam, dan gula. Tak lupa masukkan daging yang banyak. Memasak bagaikan membuat ramuan tersendiri yang menenangkan hati mahasiswa kedokteran itu. Wangi masakan bagaikan parfum mahal yang selalu digemarinya.

Tiba-tiba saja di tengah ‘kencan’ romantisnya dengan masakannya, kepala merah sang senpai muncul membuatnya sedikit tersedak.

"Beef stew-nya apa kabar?"

“Kabar beef stewnya? Baik,” jawabnya singkat.

"Kenapa rambutmu dibegitukan?"

“Kalau tidak diikat, nanti kita makan malam beef stew plus-plus,” ucapnya sambil tertawa iseng.

"Ah, ya. Apa kabar kouhai kita yang manis itu? Barusan senpai apakan?"
avatar
Kawahira Taiyou

Age : 26
Posts : 28
Join date : 2010-04-06

View user profile

Back to top Go down

Re: Room 101 - Hi There [open penghuni kamar]

Post by Kitahara Kiyoi on Thu May 06, 2010 7:19 pm

Kata siapa yang lebih tua mesti mengayomi yang muda? Kiyoi bukan generasi penerus bangsa yang seperti itu. Baginya hidup tak jauh-jauh dari kekuasaan. Kekuasaan melahirkan aturan. Aturan melahirkan batasan-batasan. Itulah keabstrakan yang dia cari. Dengan batasan, hidup jadi lebih tertata.

Dia tak peduli dikatai brengsek dan serumpunnya. Tak peduli dibenci. Yang penting orang tak mencampuri hidupnya, dan dia bisa mendapatkan apa yang diinginkannya.

Ketenangan si kouhai no. 1 jelas berbanding terbalik dengan kehebohan kouhai no. 2. Gayanya mengaduk campuran daging dan kuah begitu 'Jepang' dan tenang.

"Wanginya enak," memuji dengan tulus kali ini. Tak memusingkan poni hitam yang dijepit ke samping alih-alih dibuat terlempar menutup sebagian muka.

Lalu pembicaraan jadi tak sedap gara-gara mendadak topik berubah haluan. Kouhai manis? Manis apanya? Ada juga kouhai serampangan. Bocah matahari ini benar-benar naif kalau menganggap si buluk itu manis.

"Itu cuma upacara selamat datang ala 101 kok," menyahut ringan.

Yah, kebetulan saja dia sedang kambuh sifat sok eksklusif-nya. Tapi salah kouhai no. 2 itu juga sudah menyambut gayung perseteruan yang ia ayunkan.

"Biar kutengok dia," berlalu lagi. Menepuk pundak sang tukang masak sebelum lenyap menuju kamar mandi lagi.

Berhubung tadi dia sengaja tak menguncinya, maka sekarang pasti bisa didobrak dengan gampang.

"Oi, Max! Cepat sudahi mandimu! Kalau tidak kau tidak kebagian beef stew!" teriakan seiring dobrakan di pintu, sewenang-wenang mengekspos tubuh si kouhai. Dengan tenang berdiri di ambang pintu dengan tangan terlipat.

Dia memang luar biasa gila, menyebalkan, dan asal-asalan.
avatar
Kitahara Kiyoi

Age : 29
Posts : 24
Join date : 2010-04-02

View user profile

Back to top Go down

Re: Room 101 - Hi There [open penghuni kamar]

Post by Maximillian Shimabukuro on Thu May 06, 2010 9:34 pm

Spoiler:
Ahem =w= saya kurang ngerti ini tipe kamar mandi kaya apa. Jadi saya asumsikan aja mungkin kamar mandi dengan shower yah? Shower ada 2 mungkin, yang satu nancep di dinding yang satu pake selang.

Hatinya berdegup dengan kecepatan dua kali lipat dari biasanya—mungkin. Karena yang bergema di dalam kepalanya adalah degupan-degupan yang berasal dari dadanya dan bukannya suara gemericik air shower yang kini menimpa punggung dan kepalanya dengan deras. Lepas dari satu ketegangan, ia masuk dalam ‘ketegangan’ yang lain. Menyenangkan. Adrenalinnya berpacu.
Di luar tembok kamar mandinya, dia akan berhadapan dengan dua penghuni yang seakan dari dua dunia yang berbeda. Dunia setan dengan celana kolor motif macan dan dunia antah berantah dengan kuping panjang, anak panah di tangan dan bulu mata berlebihan. Dia pernah menghadapi hal ini. Sering. Setiap hari malahan. Ayah tirinya yang berlaku bak tiran, memerintah seenak udel dan mengenakan pakaian bermerk ‘gengsi’. Sementara ibunya yang lembut, rapuh dan lemah hati, tak bisa mengatakan apa-apa kecuali anggukan yang manis. Dia sendiri? Berperan sebagai cinderela. Cinderela brutal tentu saja, melabrak setiap ada kesempatan dan tidak membiarkan kepalanya diinjak. Di rumah, sang ayah memegang seluruh kuasa dan ibunya menangisinya. Di sini, kuasa itu tidak akan mencapai pintu kamarnya dan—apa mau sang kakak kelas yang bagai malaikat itu akan meneteskan air mata untuknya juga? Hahaha. Home sweet home, baby. Selamat datang kembali di rumah.

BRAK!

"Oi, Max! Cepat sudahi mandimu! Kalau tidak kau tidak kebagian beef stew!"

Pintu kamar mandi yang lupa ia kunci menjeplak terbuka. Pemuda Okinawa itu melonjak sedikit dari lantai. Tubuh bagian atasnya berputar sehingga—untungnya—cahaya lampu dari luar hanya mengekspos pantatnya yang basah. Siapapun yang ada di luar, sudah barang sial karena shower yang ada di tangannya kini teracung tepat ke arah pintu.

SPLASH!
avatar
Maximillian Shimabukuro

Age : 25
Posts : 94
Join date : 2010-04-06

View user profile

Back to top Go down

Re: Room 101 - Hi There [open penghuni kamar]

Post by Kawahira Taiyou on Thu May 06, 2010 11:39 pm

Wanginya enak, katanya. Tentu saja! Siapa dulu yang membuatnya, sombong mentari ini dalam hati. Bukannya narsis, tapi memang dia sangat membanggakan kemampuannya ini. Sekali dia membanggakannya dia akan menjadi perfeksionis akannya.

Menangkap sesuatu yang ‘aneh’ di sini. Dia tahu benar itu bukan hanya sekedar upacara. Alih-alih itu adalah perbuatan senioritas yang ditujukan sejak dini supaya sang kouhai tidak serampangan dan tahu siapa yang berkuasa dalam kamar ini. Sungguh sesuatu yang kreatif, memang dalam beberapa hal dia sedikit menyukai tindakan senpainya. Yah, setidaknya ada beberapa bagian yang ‘manis’ juga dalam diri senpai berambut merah itu.

“He? Dulu aku tidak dibegitukan kan?” ucapnya iseng, ingin melihat bagaimana reaksi senpainya itu.

Tapi tetap saja, dia belum tahu apa yang sebenarnya dilakukan oleh senpainya ini kepada kouhai baru mereka itu. Kan tidak lucu kalau dia ketinggalan sesuatu yang seru di hadapan matanya kan? Seperti suatu benda yang ada di depan mata tapi tidak bisa digapai. Belum juga menjawab rasa penasarannya itu, sang senpai sudah kembali keluar dari dapur dan sepertinya hendak menengok si kouhai.

Sepertinya dia memang tidak bisa mengharapkan jawaban yang sepastinya. Dan dia tidak bisa melihat apa yang terjadi di depan sana, karena nyawa masakannya berada di tangannya. Maka dia kembali mengaduk dengan penuh kasih sayang dan menunggu kekentalan yang pas baginya, setelah akhirnya dirasa sudah cukup dimatikannya kompor. Dibawanya panci berisi beef stew yang masih mengepul ke tengah meja makan yang sudah diberi alas. Tak lupa diambilnya tiga buah mangkuk dan menatanya rapi di atas meja.

“Semuanya, beef stewnya sudah jadi nih!” serunya supaya kedua teman sekamarnya itu dapat mendengarnya.

Sentuhan terakhir, dia membawa nasi putih yang masih hangat juga ke meja makan. Lebih enak begitu kan? Jadi kalau mau tambah tinggal ambil saja di situ, tidak usah membuat keributan ke sana ke mari.
avatar
Kawahira Taiyou

Age : 26
Posts : 28
Join date : 2010-04-06

View user profile

Back to top Go down

Re: Room 101 - Hi There [open penghuni kamar]

Post by Sponsored content


Sponsored content


Back to top Go down

View previous topic View next topic Back to top

- Similar topics

 
Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum