Be My Master

View previous topic View next topic Go down

Be My Master [P]

Post by Cielo Estrellado on Mon Apr 12, 2010 6:24 pm

Master.

Selama 35 tahun hidupnya itulah yang dicari oleh seorang Cielo Estrellado. Satu kata yang membentuk satu esensi keberadaan manusia. Satu orang yang teristimewa. Menyibukkan diri dalam penelitian semenjak sang wali meninggal, seorang wanita tua--dokter berbakat--yang jenius dan memiliki senyum lembut dan hati yang hangat. Sempat membuat sang pet harimau putih merasa terpukul dan menutup diri ketika dirinya menemukan bahwa sang wanita dengan senyum hangat itu tak lagi ada di sisi, meninggalkan dirinya dalam kesendirian, melanjutkan penelitian yang tak terselesaikan, impian dari sang wanita tua dalam ingatannya.

Memutuskan untuk kembali menapaki jalan setelah cukup merasa dalam kesendirian. Memutuskan mencari apa yang selama ini sempat terlupakan. Keberadaan seseorang untuknya mendedikasikan seluruh hidup yang tersisa. Sengaja menerima pengajuan kerja part-time di medical center yang menjadi tempat favoritnya, ruangan kesayangan dimana dia bisa mendapatkan ketenangan yang diinginkannya. Dan rupanya permintaan kecilnya dikabulkan ketika satu sosok keberadaan muncul di harinya.

Jascha Iversen.

Menemukan fakta bahwa pemuda berkacamata yang hadir di hari itu adalah seorang mahasiswa tingkat tiga di jurusan hukum tempatnya berada sekarang. Sempat ragu akan perasaan yang hadir ketika bola mata menangkap kehadirannya. Memutuskan untuk mencari tahu data dan informasi yang dibutuhkan dalam membentuk diagnosa yang kuat mengenai rasa yang hadir. Dan setelah 3 hari berlalu akhirnya mendapatkan apa yang diinginkan, menarik kesimpulan dan kini saatnya untuk melakukan apa yang menjadi kesimpulan akhir. Bahwa dia telah menemukan masternya kini. Setelah 35 tahun dirinya berada dalam penantian diri.

Satu alasan itulah yang kini membuatnya berdiri dan menunggu di depan kelas sang calon master. Ekor bergerak dengan antusias meski wajah tak menampakkan emosi berarti. Menanti sang sosok muncul di hadapan. Dan ketika apa yang dilihatnya telah hadir dalam bola matanya, kaki melangkah mendekat, menghalangi langkah yang mungkin terjadi. Kepala mendongak, mata menatap lurus, tak terbentuk sedikit pun perubahan dalam wajah ketika satu kalimat serius terucap keluar.

''Jascha Iversen, saya mohon jadilah master saya''

Kepala tertunduk.
Badan membungkuk.
Permohonan telah keluar.
Dan kini apa yang dia lakukan hanyalah menanti jawaban.

Dengan perasaan berdebar penuh antisipasi dalam diri.
avatar
Cielo Estrellado
Medical Head Division

Age : 42
Posts : 17
Join date : 2010-02-06

View user profile

Back to top Go down

Re: Be My Master

Post by Jascha Iversen on Wed Apr 14, 2010 8:00 pm

Kelas bubar dan mahasiswa keluar layaknya peluru yang dilepaskan dari meriam. Tak sabar, ribut. Termasuk dirinya, yang sempat terpana setengah heran ketika mendadak sosok yang diingatnya sebagai salah satu dosen dari tempatnya mengais kumpulan credits menghalangi jalannya. Bersamaan dengan rasa itu, dia mengungkapkan sesuatu yang mengejutkan.

''Jascha Iversen, saya mohon jadilah master saya''

Kalau saja dia tidak populer--oke dia narsis, tapi dia tahu orang lain pun menganggapnya begitu, buktinya dosen yang ini tahu namanya kan?--dia pasti sudah mengeluarkan reaksi penuh kebingungan. Tidak mengerti mesti bagaimana. Namun dirinya hanya memiringkan kepala, tersenyum seperti biasa, sementara sebuah cerita tertutur dari benaknya.

Suatu ketika saat langit dipenuhi aroma bunga, sewujud pet datang ke hadapanku. Matanya bening, kuning kecokelatan dan tajam. Aku harus menundukkan kepala hanya agar bisa menangkap keberadaannya dengan jelas, karena dia begitu mungil. Sepasang telinga putih mencuat di antara helai rambut putihnya. Kukira kakek-kakek kalau saja tidak segera kukategorikan sebagai pet dengan kewajarannya sendiri.

Dan dari bibirnya, dengan yakin sebuah kalimat meluncur. Kuanggap seperti kereta salju tanpa penumpang yang tidak tahu kemana hendak mengarah, karena apa yang dikatakannya terdengar mustahil--awalnya.

Di antara sekian juta manusia di dunia, kupikir aku akan selalu menjadi yang terakhir. Prioritas yang tak diindahkan. Sungguh, aku tak main-main. Kau tak akan menyukai aku sebagai temanmu karena aku bisa menusukmu dari belakang--artinya hanya satu, aku mungkin mencuri orang yang paling kausayangi. Tidak pula kekasihmu karena banyak kali kubuktikan aku hanya membawa sakit hati. Bukan juga kakak atau adik angkatmu karena kau takkan tahan menjagaku--walau ada seorang yang berhasil melakukannya selama bertahun-tahun dan untuk itu aku mengaguminya. Bahkan kalau aku sekedar tetanggamu, mungkin kau tak akan pernah mentoleransinya. Karena aku senang membuat keributan di tengah malam--aku suka membuat orang lain berisik karena tanganku, karena bibirku, karena tubuhku.

Maka, segila apa pet yang memintaku menjadi masternya? Tidak tahukah dia, seumur hidup aku tak pernah memelihara apapun selain seekor aligator kecil di penangkaran yang sering kukunjungi? Bukan benar-benar hewan piaraan, memang. Tapi kuanggap begitu sebab aku kerap menyambangi penangkaran dengan tembok berlumut itu untuk memberi Antonio--katanya namanya begitu--makan. Kulemparkan ayam hidup atau potongan daging berukuran besar. Antonio kenyang, aku puas.

Nah... jadi, segila apa?

Entahlah, yang pasti dia menarik. Sepertinya dia enak dipangku dan dibelai. Telinga dan ekor, berguna sekali. Aku tak perlu mencari siapapun yang bersedia memakai atribut macam itu sebagai hiasan dalam aktivitas bernama seks, karena yang ini memiliki keduanya tertanam secara sempurna. Bagaimana rasanya mengerat telinga lembut itu? Dan melihatnya melengkungkan ekor karena sesuatu yang kutahu pasti apa. Dia lucu, menggemaskan. Tampak cocok dengan ranjang luas. Sesuatu yang jelas ingin kausimpan sebagai teman bermain yang setia.

Tidak mungkin kutolak kan?


Berakhir. Tangan terulur, meraih kedua sisi wajahnya, membuatnya mendongak dan menegakkan tubuh mungilnya--mungil bagi Jascha.

"Dengan senang hati...."

Nah, dia lupa. Dia tak tahu siapa sebenarnya pet yang satu ini.

"... Kau siapa ya...?" tanyanya, memasang wajah tenang dengan senyuman. Tak berniat meremehkan. Hanya ingin si pet tahu, paham bahwa dia menyukainya.
avatar
Jascha Iversen

Age : 27
Posts : 60
Join date : 2010-04-02

View user profile

Back to top Go down

Re: Be My Master

Post by Cielo Estrellado on Thu Apr 15, 2010 11:56 pm

Menunggu.

Salah satu keahlian yang dimiliki oleh Cielo sejak dulu. Terbiasa untuk bersikap sabar demi mendapatkan hasil yang dibutuhkan dalam penelitian yang dilakukan membuatnya menjadi terbiasa bersikap lebih tenang dan sabar. Wajah tetap tertunduk, jantung berdebar kencang, gugup menunggu jawaban yang dibutuhkan olehnya. Ekor bergerak tidak tenang, satu ekspresi yang menggantikan wajahnya yang tetap tak berubah, bukan keinginan tapi memang seperti itulah dirinya, semoga saja tindakan diri tak membuat calon masternya salah paham.

Sentuhan yang dirasakan di kedua pipi sempat membuat diri terlonjak kaget. Tubuh menegang karena rasa antisipasi, mengangkat wajah memandang sepasang bola mata di hadapannya. Ekor semakin bergerak tak sabar, telinga tegak berdiri. Tak pernah merasakan ini sebelumnya, yang pertama baginya dan rupanya memberi rasa berbeda yang cukup membuat Cielo merasa bingung.

Jawaban didapat. Persetujuan. Kelegaan terpancar dari sepasang bola matanya. Mendadak merasa bodoh, hanya karena sebuah artikel yang didapatnya dari riset selama 3 hari mengenai peraturan bahwa calon master berhak menolak pet yang mengajukan diri padanya, membuat sebersit rasa takut muncul dalam diri Cielo. Apakah itu akan terjadi padanya? Karena jika jawabannya adalah, 'ya', maka penantian diri selama 35 tahun akan menjadi sia-sia.

''Nama saya Cielo Estrellado, dosen jurusan kedokteran, pria, 35 tahun dan merupakan pet harimau putih''

Menjawab pertanyaan yang diberikan. Berharap semoga informasi yang diberikan cukup dan tak mengecewakan. Tak terbiasa dengan hubungan antar manusia karenanya sedikit canggung jika harus berdekatan. Terbiasa sendiri, namun diri telah bertekad untuk mengubahnya. Mendedikasikan seluruh hidup untuk masternya.

Akhirnya aku temukan..

''Mulai sekarang saya mengabdi pada anda. Hidup saya adalah milik anda sepenuhnya dan perintah anda mutlak adanya. Karena itu, apa perintah pertama anda, Master''

Bibir berbicara, lidah membiasakan diri berucap dengan panggilan baru. Ekor dan telinga bergerak gugup, menanti perintah pertama yang diberikan. Satu ujian yang mempertaruhkan harga dirinya sebagai pet ketika dilaksanakan. Harus melakukan dengan baik sesuai apa yang dibacanya mengenai hubungan master dan pet. Apa yang menjadi kewajibannya dan harus dilaksanakan apa yang terjadi. Tak ingin mengecewakan master pertamanya.

Itulah yang menjadi prinsipnya.
Sebagai seorang pet.
avatar
Cielo Estrellado
Medical Head Division

Age : 42
Posts : 17
Join date : 2010-02-06

View user profile

Back to top Go down

Re: Be My Master

Post by Jascha Iversen on Fri Apr 16, 2010 2:20 pm

Menurutnya, pet itu begitu manis. Tak jauh beda dengan seekor kucing. Harus diakui bahwa dirinya bukanlah penggemar berat mamalia yang identik dengan dunia mistis dan sihir itu, tapi melihat sosok yang satu ini dirinya jadi berpikir bahwa kucing ternyata bisa jadi sangat menarik kalau hanya berbentuk atribut serupa telinga dan ekor. Untungnya ia tidak mengeong, karena kalau mengeong Jascha pasti tak mengerti apa yang dikatakannya.

Identitas diri. Namanya Cielo Estrellado. Bahasa Spanyol yang berarti 'langit berbintang'. Kenapa juga namanya seperti itu? Apa dia berasal dari Spanyol?

Abaikan kemungkinan itu untuk sementara, sebab dirinya lebih suka mensyukuri kenyataan bahwa pet ini bisa berbicara bahasa Jepang--bahasa yang baru dipelajarinya juga sejak usia tiga belas. Maka dia bisa memahami ini:

Usianya 35. Beda lima belas tahun dengannya--bagaimana bisa ia terlihat begitu muda, bahkan meski jubah dokter menyelimuti bahu mungilnya? Jascha bisa saja menganggapnya berbohong, tapi tidak. Dia punya cukup logika untuk meyakini bahwa dosen tak mungkin berdusta mengenai usia.

Lalu, pria.

How easy it is to know you're a man.

Tapi yang paling menarik adalah bahwa ia pet harimau putih.

Wah, baginya tampak seperti kucing piaraan yang lucu, apalagi mukanya jinak begitu. Jangan salahkan kalau selamanya dia takkan bisa menganggapnya harimau putih. Dia memang lebih cocok dengan kesan manja tapi misterius ala seekor kucing.

Lalu, tiba-tiba menyatakan diri sebagai hak miliknya. Seutuhnya jiwa dan raga adalah miliknya.

Apa memang hubungan master-pet itu sekental ini? Mirip dengan ikatan pernikahan.

Jujur, ia tak pernah mengerti dengan mendalam mengenai hubungan master dan pet. Pernah mendengar namun tak pernah mengalaminya. Maka ketika ada pet yang mengajukan 'lamaran' padanya, satu hal yang baru jelas baginya adalah bahwa pet merupakan milik master yang menuruti segala perintah. Yang terbayang dalam kepalanya adalah hal pelatihan hewan, macam menyuruh duduk, berdiri, berguling.

Lalu apa perintah pertamanya? Tak mungkin duduk, berguling apalagi. Yang begitu tidak perlu diajarkan kalau merujuk pada statusnya yang seorang dosen. Itu jelas lebih dari cukup untuk menegaskan bahwa ia berbeda jauh dengan hewan piaraan biasa. Mungkin karena ia setengah manusia, ya?

Berpikir sejenak, memerhatikan ekor yang bergerak dengan antusias. Merasa lucu dan tak dipungkiri gemas melihatnya. Memberi ide padanya mengenai apa yang harus ia lakukan tentang makhluk menarik yang satu ini.

"Katakan kenapa kau memilihku sebagai mastermu..." memutar bola matanya sebelum menambahkan,

"Tapi sebelum itu kita duduk saja dulu, ya."

Menggandeng tangannya, menuntunnya masuk menuju kelas yang kosong karena jam kuliah telah usai untuk rekan seangkatannya di jurusan hukum. Mengambil tempat di kursi bagian belakang kelas, meminta si pet duduk berseberangan dengannya. Baru melepaskan tangan yang digandengnya hanya ketika mereka sudah sama-sama duduk.

"Jadi, apa jawabanmu?" tanyanya lagi dengan wajah disisipi senyum yang biasa. Ramah, namun jelas menyimpan maksud tertentu.

Such a nice creature to look at.
avatar
Jascha Iversen

Age : 27
Posts : 60
Join date : 2010-04-02

View user profile

Back to top Go down

Re: Be My Master

Post by Cielo Estrellado on Fri Apr 16, 2010 5:33 pm

Kembali menunggu. Satu perintah yang akan diberikan oleh sang master padanya. Satu perintah yang akan membuat statusnya sebagai pet akan menjadi sempurna. Perintah pertamanya sebagai seorang pet yang diberikan oleh master pertamanya.

Semoga bukan perintah yang sulit.

Mata mengerjap sekali, dua kali, ketika mendengar perintahnya. Permintaan akan satu jawaban dari sebuah pertanyaan. Alasan. Bahkan dirinya pun tak mengerti jawaban sesungguhnya dari hal itu. Terdiam sesaat, ekor bergerak gelisah akan rasa gugup karena kemungkinan tak sanggup untuk menjawab. Mengikuti ketika diri diarahkan menuju satu tempat, ruangan kelas sang master yang telah kosong. Menurut ketika diri didudukkan berhadapan dengan sang master, ekor bergerak tidak nyaman.

''Jawabannya--''

Menggantung ucapan. Ekor bergerak gelisah karena sejujurnya diri pun bingung akan jawaban dari pertanyaan yang diberikan. Tak mengerti alasannya karena sejujur pilihannya bukan didasarkan oleh logika yang selalu menjadi dasarnya melainkan insting. Insting seorang pet. Sempat ragu pula awalnya. Tak yakin hingga memaksanya untuk mencari tahu dan melakukan riset. Segala hal yang dirasa perlu baginya untuk menyakinkan. Diagnosa kuat membutuhkan dasar yang kuat hingga satu tindakan bisa dilakukan. Satu alasan mengapa diri membutuhkan waktu 3 hari untuk memberanikan diri menemui. Satu keberanian yang cukup sulit baginya yang jarang melakukan satu langkah awal. Tapi sang master telah memberinya perintah dan sudah tugasnya untuk menjawab. Tak ada penawaran.

''--saya memilih anda karena memang anda yang terpilih.''

Terdiam kembali. Ekor bergerak gelisah, mata memandang sepasang bola mata di hadapan. Ekspresi tenang, tak berubah seolah diri tak merasakan perasaan apapun akan pertanyaan yang ada, namun ekor yang bergerak gelisah justru menunjukkan isi hati sesungguhnya.

''Sesungguhnya pemilihan master berdasar akan insting pet itu sendiri jadi jika anda bertanya alasannya secara logika saya pun tidak mengerti. Apa anda cukup puas dengan jawaban saya?''

Memandang master miliknya. Memperhatikan ekspresi yang mungkin terjadi. Banyak yang belum dimengertinya mengenai masternya itu. Tak sopankah jika dirinya bertanya nanti? Data yang didapatnya hanya didasarkan atas data di database utama, jelas kurang jika dirinya ingin mengenal lebih. Tak ingin melakukan kesalahan karena memang dalam hidupnya kesalahan tak bisa ditolerir dengan mudah.

''Master, bolehkah jika saya bertanya?''
avatar
Cielo Estrellado
Medical Head Division

Age : 42
Posts : 17
Join date : 2010-02-06

View user profile

Back to top Go down

Re: Be My Master

Post by Jascha Iversen on Wed Apr 21, 2010 1:12 pm

Dalam kepalanya, dia membayangkan seekor kucing putih yang sedang bergulung di atas tempat tidur mungil beralaskan kain nan nyaman. Sang pemilik sedang memperhatikannya, menatapnya seolah dengan begitu dia bisa tahu apa yang dipikirkan oleh si kucing bahkan ketika ia tak mengucapkan apapun melainkan hanya mengibaskan ekor kesana-kemari.

Tetap diam, memandang dengan wajah setenang bulan purnama ketika jawaban akan pertanyaan yang ia ajukan digantung. Tak jelas apa yang ada di balik ekspresi tenangnya, dan dia sendiri enggan menjelaskan. Baginya, apapun yang mungkin dia pikirkan di dalam otaknya sekarang pastilah tak jauh dari isu-isu kemanusiaan. Bukan menyangkut nilai moral, melainkan mengenai keunikan dan perbedaan yang menjadikan dua orang manusia memiliki identitasnya sendiri, karakteristiknya sendiri, pola pikirannya sendiri. Kehidupannya sendiri, pada dasarnya demikian.

Memang terpilih.

Bagaimana kiranya ia harus menjelaskan kalimat tersebut? Dia tak tahu apa kriteria penilaiannya sampai dirinya yang begini rupa bisa terpilih. Apakah memang ada, dia juga tak tahu. Hanya pernyataan selanjutnya yang menjelaskan tentang kebingungan yang kini timbul di dalam benaknya.

Ah, ternyata tak ada hubungannya dengan logika. Perumusan kalimat logis matematis macam jika-maka dan implikasi rumit tak berlaku di sini. Semua murni karena faktor insting, entah insting hewan entah insting manusia. Pada akhirnya semua bermuara pada situasi psikologis, alasan mengapa ia sekarang ada di sini bersama si pet harimau (yang sepertinya akan tetap dianggapnya sebagai kucing), saling tatap sembari duduk-duduk di kelas kosong.

Oh ya. Satu hal penting mesti digarisbawahi di sini. Barusan, si pet sekaligus dosen memanggilnya dengan sebutan "Anda", sementara si master alias mahasiswa dengan santainya memanggil "kau". Jascha tak pernah memusingkan soal strata kesopanan--bagi dirinya semua hanya tatanan semu kemasyarakatan yang berbasis norma. Jadi, selama tak ada unsur "masyarakat" di sini, ia akan memanggil pet manis itu dengan sebutan seperti ia menyapa teman akrabnya. Walau, "Sensei" pasti masih menjadi sapaan utama pengganti nama--tampaknya.

"Hm? Mau tanya apa? Silakan saja," tersenyum ramah--lagi-lagi--dan menarik diri untuk maju mendekat ke arah pria bermata kuning kecokelatan, melipat kedua tangan di atas meja sementara fokus seluruhnya tertuju pada si calon penanya.

Let's see what enigma I've made you.
avatar
Jascha Iversen

Age : 27
Posts : 60
Join date : 2010-04-02

View user profile

Back to top Go down

Re: Be My Master

Post by Cielo Estrellado on Sat Apr 24, 2010 8:12 pm

Mata kuning kecoklatan memandang sepasang bola mata di hadapannya. Tanpa sadar memundurkan diri ketika sepasang bola mata itu mendekat ke arahnya. Bukan bermaksud tidak sopan, hanya saja memang sedari awal Cielo tidak pernah bisa terlalu berhubungan dengan orang lain.

Mungkin hanya wali pertamanya, orang yang dianggapnya seperti orang tua kandung, teman dekat dan saudaranya, satu-satunya manusia yang bisa masuk ke dalam teritorinya. Dan semenjak kematian sang wanita yang memiliki senyum lembut 10 tahun lalu, dirinya memutuskan untuk menutup diri, lebih memilih untuk menghabiskan hari-harinya dengan berkutat di penelitian ataupun mengajar mahasiswa-mahasiswa yang mencari ilmu sembari menunggu waktu dimana dirinya menemukan master yang dicarinya.

Dan kini akhirnya dia menemukannya.
Meski dalam hati dirinya masih ragu apakah diri cukup berharga untuk menjadi seorang pet bagi seorang master.
Apakah dirinya cukup sempurna untuk bisa menjalankan seluruh perintah yang diberikan sebagai seorang pet.

Tapi apapun perasaan yang kini dirasakan olehnya, tak bisa terlukis dengan baik di wajahnya. Bukan dirinya tak ingin, hanya saja karena kebiasaan yang terbentuk dan juga sifat mendasar seolah membuat dirinya tumbuh sempurna sebagai seorang pria yang jarang memiliki emosi yang tergambar di wajah, bahkan di saat-saat seperti ini. Hanya ekor dan telinga yang terus bergerak gugup yang seolah menjelaskan apa yang kini dirasakan.

"Saya ingin bertanya mengenai anda"

Berkata tenang, mengeluarkan notes berukuran sedang yang selalu dibawanya kemana-mana dan pulpen yang juga selalu bersamanya. Dibawa untuk berjaga-jaga kapanpun diri membutuhkan, karena siapa yang tahu bukan? Memandang pemuda di hadapannya, kali ini menjadi benar-benar serius ketika dirinya mulai berkata,

"Boleh saya tahu apa saja yang anda sukai dan anda benci? Untuk persiapan agar saya bisa memberikan yang terbaik untuk anda"

Sempurna.
Itulah yang selalu diinginkan oleh Cielo.
Tak mengijinkan adanya sedikitpun kesalahan.
Baik yang disengaja atau bahkan yang tidak disengaja.
avatar
Cielo Estrellado
Medical Head Division

Age : 42
Posts : 17
Join date : 2010-02-06

View user profile

Back to top Go down

Re: Be My Master

Post by Jascha Iversen on Tue Apr 27, 2010 2:24 pm

Menaikkan alis dengan agak heran saat pet di hadapannya menarik diri agak menjauh darinya saat dia mendekat. Tersenyum tak lama setelahnya, menyadari di antara mereka berdua jelas masih ada sesuatu yang membatasi, yang menjadi sekat bagi kebersamaan yang lebih dekat. Wajah penuh keramahan palsunya jelas begitu kontras dengan wajah satunya lagi, yang tampak tenang walau tetap saja ada yang aneh kalau jeli memperhatikan telinga putih yang berada di pucuk kepalanya.

How adorable. Trying to play hard-to-get, eh?

"Saya ingin bertanya mengenai anda"

Begitu katanya.

"Boleh saya tahu apa saja yang anda sukai dan anda benci? Untuk persiapan agar saya bisa memberikan yang terbaik untuk anda"

Begitu kelanjutannya.

Kini giliran dia yang menjawab pertanyaan. Tidak terlalu suka, sebenarnya. Sudah banyak sesi tanya-jawab yang ia lalui selama ini, dan semuanya tak pernah membuat dirinya merasa nyaman. Kebanyakan bertanya tentang dirinya, makanya dia kurang senang. Dia lebih suka bercerita tentang mengapa orang bersalah tapi gila bisa bebas dari jerat hukum dibanding harus menyahut mengenai beberapa fakta tentang dirinya.

Tapi, apa boleh buat. Dia sendiri yang menjebak diri masuk ke dalam lingkaran master dan pet, maka sekarang dia harus mempertanggungjawabkannya.

"Boleh saja," sahutnya santai.

Berpikir sesaat, kemudian mengulurkan tangannya ke arah si pet.

"Tapi, maaf sebelumnya, aku penasaran dengan benda ini," katanya sembari menangkap sebelah telinga yang bergerak-gerak aneh.

Tidak sopan terhadap dosen, itu pasti. Namun mau bagaimana lagi, dirinya memang tidak suka menahan kalau sudah terlanjur penasaran. Kalaupun nantinya si kucing (di matanya akan selalu kucing) keberatan dengan tingkahnya yang seperti ini dan mau marah atau memukulnya atau mengomelinya, dia tidak ambil pusing. Silakan saja, yang penting sekarang rasa penasarannya terjawab sudah.

"Lembut ya," komentarnya sebelum kembali menarik tangannya, membiarkannya terlipat di atas meja.

"Jadi, yang kusukai gampang saja: safe-sex, buaya dan aligator, pantai, baca buku, dan jalan-jalan."

Sejenak mengambil nafas, setengah berpikir kalau saja ada yang terlupakan. Memang mulutnya tak bisa dikendalikan, jangan salahkan kalau dia menyebutkan "seks" di depan makhluk yang satu itu. Apa salahnya menjadi orang jujur?

"Yang kubenci: pare, natto, dan tidur beramai-ramai."

Hanya itu yang bisa dikemukakannya sekarang, entah kalau besok sudah berubah lagi.

"Ada lagi?" mengkonfirmasi seraya mengamati telinga lancip yang mencuri perhatiannya.
avatar
Jascha Iversen

Age : 27
Posts : 60
Join date : 2010-04-02

View user profile

Back to top Go down

Re: Be My Master

Post by Cielo Estrellado on Thu Apr 29, 2010 5:41 pm

"Boleh saja,"

Lega. Itulah yang pertama dirasakan oleh Cielo ketika rupanya sang master tidak menolak permintaannya. Mengerti bahwa pet hanya boleh mengikuti dan tak memerintah atau meminta, namun tetap saja merasa harus menanyakan demi kesempurnaan yang diinginkan. Jelas tak akan bagus jika diri malah melakukan hal bodoh yang bisa membuat sang master kesal. Membahagiakan master adalah apa yang selalu ingin dilakukannya sejak dulu ketika diri membayangkan seperti apakah sang master akan didapat olehnya.

Ekor dan telinga bergerak penuh antusias. Mendengarkan apa saja yang perlu didengar sembari tangan bersiap mencatat semua yang dikatakan. Tak ingin ada yang tertinggal. Biasanya diri berada dalam pihak dosen yang melihat sang mahasiswa mencatat namun kini yang dilakukannya sama seperti mahasiswa dan pemuda di hadapan adalah sang dosen.

"Tapi, maaf sebelumnya, aku penasaran dengan benda ini,"

Terkejut ketika merasakan sentuhan di telinga. Spontan tubuh langsung menjauh. Tak menduga apa yang terjadi dan memang tak terbiasa dengan sentuhan fisik. Mungkin saja dirinya terakhir melakukan sebuah pelukan adalah ketika sang wali meninggal 10 tahun lalu. Merasa aneh menjadi penyebab. Nyaris saja terjungkal jika sampai dirinya tak memiliki refleks yang bagus. Bersikap waspada, telinga tegak berdiri sementara ekor bergerak cepat.

"Lembut ya,"

Diam, tak berkomentar. Memilih untuk menyibukkan diri sementara tubuh masih dalam posisi waspada. Memandang pada sang pemuda di hadapan. Bersiap untuk mencatat. Menarik nafas untuk menenangkan diri. Berhasil rupanya.

"Jadi, yang kusukai gampang saja: safe-sex, buaya dan aligator, pantai, baca buku, dan jalan-jalan."

Mengangguk dan mulai mencatat apa yang didengar. Namun baru sampai kata pertama gerakan jarinya langsung terhenti. Memandang bingung pada tulisan yang diciptakan oleh tangannya sendiri. Kupingnya tidak sedang salah dengar bukan?

Dia bilang safe sex?

"Yang kubenci: pare, natto, dan tidur beramai-ramai."

Tak sempat untuk berpikir. Lebih memilih untuk menulis dulu. Bertanya biasa dilakukan terakhir, itulah yang selalu dilakukan oleh mahasiswa-mahasiswanya ketika dia mengajar. Memandang pemuda di hadapan ketika mendengar pertanyaan yang terakhir. Tepat seperti yang diinginkan olehnya.

"Tadi...anda bilang safe sex? Itu... sex yang itu?"

Menyamakan persepsi. Itulah yang harus dilakukan. Tak ingin ada salah paham pula yang bisa menyebabkan kesalahan. Karena harus ditanyakan oleh diri. Karena sex dalam pikirannya adalah hubungan fisik yang dilakukan oleh dua orang. Setahunya hal itu masih tabu oleh beberapa orang meski jelas bukan dirinya yang berada dalam dunia kedokteran.

Tapi siapa yang tahu jika masternya rupanya berbeda?
avatar
Cielo Estrellado
Medical Head Division

Age : 42
Posts : 17
Join date : 2010-02-06

View user profile

Back to top Go down

Re: Be My Master

Post by Jascha Iversen on Sat May 01, 2010 12:27 pm

Melihatnya menghindari sentuhan dan bereaksi resisten terhadapnya sangat menarik. Membuatnya penasaran ingin menyentuhnya lagi. Katakanlah ia mesum atau sejenisnya, itu bukan masalah karena nyata-nyata ia memanglah orang yang selalu berpikir ke arah 'sana' kalau disajikan benda yang menarik.

"Tadi... Anda bilang safe sex? Itu... sex yang itu?"

"Memang ada yang lain?" malah balik bertanya.

Seingatnya dosen ini barusan memperkenalkan diri sebagai pria berusia 35 tahun, bukan? Apa karena dirinya pet maka ia tak mengenal sex? Atau karena dia adalah penganut paham 'sex after married'? Yang manapun, keputusannya untuk menanyakan apakah sex yang dimaksud adalah 'sex' yang itu tetap saja membuatnya heran.

Tapi harusnya mungkin ia tak kaget. Ingat bagaimana ia bereaksi ketika telinganya disentuh? Menjauh. Pertanda bahwa ia asing terhadap sentuhan fisik. Berarti mudah saja menyimpulkan ia tak mengenal seks, bukan?

Tersenyum maklum setelah mencerna fakta yang tersaji di hadapan. Mungkin ada baiknya ia menjelaskan secuil kenyataan tentang bagaimana ia memandang seks di usia yang masih muda. Mungkin itu akan sedikit membukakan pintu pengertian tentang beda pandangan akibat kesenjangan situasi fisik dan umur.

"Jadi, biar kuperjelas saja," mencondongkan tubuh makin mendekat pada pria di seberangnya. Lurus-lurus memandangnya, berniat menjadikan apa yang akan ia beberkan sebagai data krusial bagi pet miliknya yang kini sedang menuntut bermacam informasi tentang dirinya.

"Safe sex berarti melakukan seks dengan 'pengaman' dan dengan orang pilihan untuk menekan resiko kesehatan. Apa itu sangat mengherankan?"
Kalau bagi generasi sekarang, seks mungkin bukan barang asing. Tidak pula baginya yang melakukannya dengan berbagai orang sejak usia belia. Terjerumus mungkin tepat untuk menggambarkan keadaannya, sebab nyatanya kebanyakan orang tak melakukannya sesering ia di usia demikian muda.

Ingin menggodanya sejak tadi. Terlalu gemas melihat tingkah dan gelagatnya yang tampak cocok dengan perawakan manisnya.

"Aku tidak keberatan lho, kalau melakukannya dengan Sensei," tersenyum iseng.

Tapi tidak, maksud di balik kata-katanya bukanlah keisengan belaka. Ia sangat serius walau terlihat santai.
avatar
Jascha Iversen

Age : 27
Posts : 60
Join date : 2010-04-02

View user profile

Back to top Go down

Re: Be My Master

Post by Cielo Estrellado on Sun May 02, 2010 7:00 pm

"Memang ada yang lain?"

"Menurut kedokteran, sex adalah hubungan fisik yang terjadi antara dua orang, ketika dua atau lebih genetalia bertemu maka itu bisa dikategorikan sebagai sex"

Menjawab atau mungkin akan lebih tepat jika disebut menjelaskan. Bertindak sebagai dosen membuatnya secara otomatis selalu berpikir berdasarkan teori. Dan sejauh ini hanya teori itulah yang diketahui dan tentu saja diajarkan olehnya kepada mahasiswa-mahasiswa yang memasuki kelasnya. Tak ada tabu memang dalam kamus kedokteran. Meski bagi Cielo pribadi, hal itu hanyalah sebatas teori.

"Safe sex berarti melakukan seks dengan 'pengaman' dan dengan orang pilihan untuk menekan resiko kesehatan. Apa itu sangat mengherankan?"

Memandang pada master di hadapan. Meneliti dari balik kacamata yang dia kenakan. Matanya memang sudah begitu buruk akibat terlalu banyak berkutat dengan buku-buku yang selalu menjadi teman dalam hari-harinya. Tapi tentu saja tak terlalu buruk hingga diri tak sanggup membaca bahwa 20 tahun adalah fakta usia dari sang master. Menyebutkannya sebagai salah satu yang disukai jelas menunjukkan bahwa sang master bukan orang yang baru saja melakukannya. Insting dan pengalaman yang mengatakannya seperti itu.

"Anda..."

"Aku tidak keberatan lho, kalau melakukannya dengan Sensei,"

Ucapan terhenti. Memandang lurus pada sang master di hadapan. Tidak terlalu bisa menebak apa yang ada di pikiran. Ada suatu insting dalam diri yang menyatakan bahwa masternya jelas bukan orang yang biasa. Tapi tidak ada penyesalan dalam diri. Jika memang itu yang terjadi biarlah, insting sudah menyatakan dan menjatuhkan pilihan, tak berhak untuk memutuskan. Karena untuk itu sudah bukan menjadi haknya.

Jadi, apa yang bisa dilakukannya kini hanya ada satu.

"Apa itu perintah, master?"

Karena jika jawaban iya, akan saya lakukan.
avatar
Cielo Estrellado
Medical Head Division

Age : 42
Posts : 17
Join date : 2010-02-06

View user profile

Back to top Go down

Re: Be My Master

Post by Jascha Iversen on Wed May 05, 2010 11:47 pm

"Apa itu perintah, master?"

Sudut bibirnya naik ketika pertanyaan itu terlontar. Dia tahu benar, baru belajar bahwa perintahnya adalah hukum. Perintahnya tak dapat diganggu gugat, maka apapun yang ia perintahkan pasti akan dilaksanakan.

Tapi, benarkah? Apa hukum masih berlaku apabila kondisinya seperti ini? Apa mungkin ia bersedia melakukannya sesuai kemauan sang master, walau perintahnya terdengar janggal bahkan tak pantas?

Sayangnya Jash tak pernah memusingkan perihal pantas-tidak pantas, terutama kalau konteksnya mereka sedang tak berurusan dengan urusan perkuliahan. Di matanya dia tak pernah terlihat sebagai dosen; sosoknya tampak menggemaskan dalam balutan jas lab putih dengan aksesoris tambahan berupa telinga dan ekor harimau. Sungguh terlihat sebagai mangsa yang ingin diterkam. Mangsa yang entah bagaimana malah menawarkan diri padanya. Padahal dari gelagatnya tadi jelas-jelas ia terlihat canggung kala disentuh, bagaimana bisa mengharapkannya bereaksi lebih baik atas hal yang lebih dari sekedar sentuhan.

Tentu dia ingin mengecupnya. Menggigiti pucuk telinganya. Menaruhnya di atas pangkuan. Memeluknya. Menontonnya berada di bawah kekuasaan dan dominasi.

Dengan kata lain, menikmatinya.

Mengulurkan tangan untuk meraih tangan lain yang tadi sibuk mencatat. Membawa tangan itu mendekat perlahan dan mengecup bagian punggungnya lembut. Mata berkilat nakal ketika ia membiarkan diri mendongak sembari tetap menggenggam ujung jemari si pet dengan tangannya.

"Kalau itu perintahku, apa kau bersedia melakukannya?"
avatar
Jascha Iversen

Age : 27
Posts : 60
Join date : 2010-04-02

View user profile

Back to top Go down

Re: Be My Master

Post by Cielo Estrellado on Fri May 07, 2010 5:21 pm

Awas. Waspada. Entah mengapa itulah yang terjadi pada dirinya kini. Padahal mengerti dengan jelas bahwa pemuda yang kini ada di hadapannya adalah masternya sendiri, namun seolah ada sesuatu yang membuat sang pet harimau putih itu merasa waspada. Tetap bersikap tenang, apa yang dilakukannya adalah keputusannya sendiri. Tak akan mungkin dia mundur begitu saja.

Terdiam menunggu jawaban. Sudah siap denga segala yang bisa saja terjadi. Memandang lurus pada sang master di hadapan, tak sekalipun mengalihkan pandangan meski ekor dan telinga mulai bergerak gelisah. Nyaris terlonjak untuk kedua kalinya ketika merasakan tangan lain yang menyentuh tangannya, sentuhan lain dirasakan di punggung tangannya. Bertahan untuk tidak melakukan apapun, meski tubuhnya mulai kaku karena tidak tahu harus melakukan apapun. Jika tidak bisa mundur ataupun maju maka tetap di tempat adalah pilihan yang harus dilakukannya.

"Kalau itu perintahku, apa kau bersedia melakukannya?"

Terdiam sesaat ketika mendengar jawaban yang malah membawanya pada pertanyaan lain. Pertanyaan yang harus dijawab oleh Cielo. Memandang lurus. Seorang pet harus menuruti seluruh perintah masternya. Apapun yang dikatakan oleh seorang master yang telah dipilihnya adalah sesuatu yang mutlak, tak peduli jika sang pet menyukainya ataupun tidak menyukainya. Yang harus dilakukan oleh seorang master adalah memerintah dan sudah seorang pet hanya bertugas untuk melakukan perintah yang diberikan. Tanpa keluh kesah.

Jadi jika pertanyaan itu terucap maka jawaban yang harus diberikan sudah jelas.

"Akan saya lakukan."

Mengatakan dengan tegas dan yakin. Memandang lurus. Meski jelas diri tidak yakin akan sanggup melakukannya ataupun tidak melihat bahkan kini tubuhnya belum terbiasa dengan sentuhan fisik yang dilakukan.

Sesungguhnya apa yang dia katakan kini bukanlah seperti dirinya pula. Bukan seorang Cielo Estrellado seorang dosen, karena memang kini dirinya bukanlah seorang dosen yang sedang berhadapan dengan mahasiswa dari fakultas lain. Kini dia adalah Cielo Estrellado seorang pet harimau putih yang sedang berhadapan dengan master yang telah dipilihnya.

"--Jika memang itu adalah perintah dari anda."

Karena perintah anda adalah mutlak adanya.
avatar
Cielo Estrellado
Medical Head Division

Age : 42
Posts : 17
Join date : 2010-02-06

View user profile

Back to top Go down

Re: Be My Master

Post by Jascha Iversen on Sun May 09, 2010 11:49 pm

Tersenyum puas mengetahui pet manis di hadapannya adalah penurut luar biasa. Tak terbayangkan bahwa ia bisa membuat seorang dosen melakukan sesuatu yang benar-benar keterlaluan, sesungguhnya. Boleh dibilang dia agak menganggapnya murahan, melihat betapa mudah ia mengiyakan permintaannya. Dia setengah curiga juga terhadap perilaku yang terkesan menghindari kontak fisik. Apa itu hanya trik licik untuk menjeratnya dengan berpura-pura enggan dan lugu? Atau mungkinkah dia memang makhluk lugu dengan trauma tertentu?

Malam ini. Malam ini juga dia bakal menemukan jawabannya. Dia sudah menjadwalkan malam ini untuk bersamanya. Dia ingin menjelajahi dataran kulitnya. Melihat keringat meluncur turun melalui lintasan bulu matanya. Pokoknya ia ingin berada di atas ranjang lembut bersamanya. Hanya itu intinya.

Dia ingin segera membopongnya saja. Tapi apa daya, dia tak bisa begitu saja meninggalkan kuliah yang akan dimulai beberapa menìt lagi. Pilihannya benar-benar tidak ada.

Beranjak bangkit dari kursi, menarik tangan si pet hingga ia ikut berdiri tegak. Mengamati bahu mungil tempat jas putih ala dokter tergantung, kemudian menepuk puncak kepalanya lembut. Menyentuh lagi telinga mungil berbulunya. Tak peduli bila sentuhannya tak menyenangkan bagi si pet. Sekarang, lebih mudah bagi otaknya untuk mencoba menyusun rencana untuk nanti malam karena dia bisa menyentuhnya dari dekat.

"Aku masih ada jadwal, Sensei."

Menghitung masih berapa lama lagi sebelum kuliah dimulai. Tersenyum dan menghentikan semua sentuhannya. Menarik tangan untuk semaunya berpindah dan naik ke bahu sang dosen. Menunduk untuk memberi instruksi dalam bentuk bisikan.

"Datanglah ke kamarku malam ini, jam sembilan."

Meluruskan punggung, tersenyum.

"Nah, Sensei, aku kuliah dulu."

Melambai sembari meninggalkan ruang kelas yang tak digunakan. Melangkah ringan sambil mengira-ngira apakah pet harimau putih itu akan bersedia memenuhi janjinya.

Cielo Estrellado, ya. Menarik.

[Jascha OUT]
avatar
Jascha Iversen

Age : 27
Posts : 60
Join date : 2010-04-02

View user profile

Back to top Go down

Re: Be My Master

Post by Sponsored content


Sponsored content


Back to top Go down

View previous topic View next topic Back to top

- Similar topics

 
Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum